Secara terpisah, ekonom asal kota Medan, Gunawan Benjamin, sempat mengungkapkan keheranannya terhadap hasil tender PT KPBN pada akhir pekan lalu.
"Padahal jika berkaca kepada harga CPO dunia, justru mengalami kenaikan dari RM 3.850 per ton pada hari Kamis, menjadi sekitar RM 3.905 per ton," ungkap akademisi dari kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) ini.
Tetapi ia akhirnya maklum dengan perkembangan harga CPO tersebut setelah melihat nasib mata uang Rupiah yang terus mengalami penguatan terhadap mata uang Dollar Amerika Serikat (AS).
Baca juga: Harga CPO di Riau Membubung
"Penurunan harga CPO ini, menurut saya, salah satunya didorong oleh penguatan mata uang Rupiah terhadap US Dolar," ujar pengajar mata kuliah ekonomi syariah tersebut.
Kata Gunawan, secara keseluruhan, penguatan Rupiah akan menjadi angin segar bagi kondisi ekonomi makro yang lebih terkendali.
Menurutnya, ekonomi di Tanah Air secara umum justru akan lebih banyak mendapatkan manfaat dari penguatan mata uang Rupiah itu sendiri.
Meskipun, ucap Gunawan melanjutkan, tidak semua sektor ekonomi akan diuntungkan dari penguatan Rupiah, terlebih bagi kinerja ekspor di wilayah Sumatera Utara, termasuk ekspor CPO.
Gunawan sendiri melihat sejauh ini mata uang Rupiah terus menguat sebesar Rp 15.350 per US Dollar di pasar keuangan pada Selasa pagi ini, termasuk pada awal perdagangan di bursa saham.
Ini Kata Petani Sawit dan Ekonom Terkait Nasib Harga CPO
Diskusi pembaca untuk berita ini