Gunawan mengaku tidak tahu apa motif para pelaku melakukan penyerangan itu. Ia juga tidak kenal dengan para pelaku yang menyerangnya berjumlah ratusan orang tersebut.
"Kami cuma bekerja. Katanya lahan warga ini pro kontra dengan PT Agrinas. Namun setahu saya, lahan itu punya warga, itulah makanya saya kerja di situ," kata Gunawan.
Hal sama juga dialami Rizaldi (44), yang mengalami luka di sekujur tubuhnya akibat penyerangan tersebut. "Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang, saya diseret-seret seperti PKI," ungkap Rizaldi.
Bahkan, kedua bola mata Rizaldi merah dan bengkak akibat ditendang pelaku. Pandangannya sempat kabur, namun saat ini sudah mulai normal.
Saat serangan brutal terjadi, Rizaldi dan rekan-rekannya tak berdaya melawan, karena para pelaku membawa senjata.
"Kami hanya bisa bilang 'aduh, aduh, ampun, ampun, Pak'. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami," sebut Rizaldi.
Rizaldi juga mengaku tidak mengetahui apa alasan para pelaku melakukan penyerangan. Setelah melakukan penyerangan, kata Rizaldi, para korban dikumpulkan, lalu dibawa keluar dari kebun dengan truk oleh tiga orang pelaku.
"Pas lewat depan kantor polisi (Polsek Tambusai Utara) kami teriak minta tolong," kata Rizaldi.
Rizaldi menyebut, jumlah korban luka sekitar 25 orang. Satu di antaranya kritis. Sementara 28 orang rekannya yang lain masih berada di dalam kebun sawit dan belum diketahui nasibnya.
"Yang kami pikirkan kawan-kawan di dalam kebun sekitar 28 orang lagi. Belum tahu nasibnya sekarang," sebutnya.
Jelang HUT RI, Puluhan Warga Rohul Belum 'Merdeka', Dihajar Seperti Suruhan 'Belanda'
Diskusi pembaca untuk berita ini