Kementan juga mengingatkan agar jadwal pemupukan disesuaikan dengan kondisi cuaca. Dengan begitu, pupuk tidak terbuang sia-sia dan tetap bisa diserap tanaman secara maksimal.
Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, Kementan turut memperkuat patroli rutin, menyiapkan regu siaga, memastikan alat pemadam siap digunakan, serta terus memantau titik panas yang muncul di berbagai wilayah perkebunan.
Tak hanya itu, Kementan juga menggelar rapat koordinasi dengan perusahaan-perusahaan sawit pemegang Izin Usaha Perkebunan (IUP) untuk memastikan seluruh sarana pengendalian kebakaran benar-benar siap digunakan jika sewaktu-waktu terjadi karhutla.
Sebagai bentuk pengawasan, inspeksi mendadak juga dilakukan di sejumlah perusahaan perkebunan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Kabupaten Siak, Riau. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan peralatan, personel, hingga sistem penanganan kebakaran dalam kondisi siap siaga.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto mengatakan, menghadapi kemarau tidak cukup hanya saat musim kering datang. Menurutnya, pengelolaan air, perawatan tanah, hingga pemanfaatan informasi cuaca harus menjadi kebiasaan dalam mengelola kebun setiap hari.
"Mitigasi kemarau harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari. Dengan pengelolaan air yang baik, konservasi tanah, pemanfaatan informasi iklim, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran, produktivitas sawit tetap bisa dijaga," ujarnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Kementan berharap kebun sawit nasional tetap mampu menghasilkan produksi yang optimal meski dihadapkan pada musim kemarau yang lebih panjang.
Dengan begitu, pendapatan pekebun tetap terjaga dan pasokan sawit nasional tidak terganggu.
Kemarau Panjang Mulai Mengancam Kebun Sawit, Kementan Bergerak Cepat
Diskusi pembaca untuk berita ini