Dummy P17

Sementara respirasi akar tanaman kelapa sawit tercatat rata-rata sebesar 1.19 megagram CO2 per hektare per bulan selama masa pengamatan lapangan berlangsung.

Menariknya lagi, tim peneliti juga memantau gas rumah kaca lain seperti dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4) menggunakan teknologi gas chromatography (GC).

Hasil analisis menunjukkan kondisi ekosistem gambut di perkebunan sawit masih berada dalam kategori terkendali. Bahkan populasi bakteri heterotrofik di sekitar tanaman sawit diketahui menurun seiring bertambahnya jarak dari pokok tanaman.

Dummy P20

Penelitian ini dinilai sangat penting karena lahan gambut Kalimantan memiliki karakteristik berbeda dibanding Sumatera. Karena itu, kombinasi data dari dua wilayah besar tersebut dianggap mampu merepresentasikan kondisi gambut nasional secara lebih komprehensif.

Selain emisi karbon, peneliti juga memantau berbagai indikator lingkungan lain seperti muka air tanah, penurunan permukaan tanah atau subsiden, hingga kombinasi ketebalan gambut dan umur tanaman sawit.

Menurut tim riset, hasil akhir penelitian ini berpotensi menjadi senjata penting Indonesia untuk menghadapi tekanan dagang global terhadap produk sawit nasional.

Dummy P21

Pasalnya, selama ini sawit Indonesia kerap dituduh menjadi penyebab kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Padahal di sisi lain, industri sawit menjadi tulang punggung ekonomi nasional karena menyerap jutaan tenaga kerja dan menghasilkan devisa besar bagi negara.

Data terbaru ini sekaligus memperlihatkan bahwa praktik budidaya sawit berkelanjutan di Indonesia mulai menunjukkan hasil nyata.

Dengan validasi ilmiah berbasis pengukuran lapangan langsung, Indonesia kini memiliki amunisi baru untuk membantah stigma negatif terhadap sawit di mata dunia.

Pengamat menilai hasil penelitian tersebut bisa menjadi momentum penting untuk memperkuat diplomasi sawit Indonesia di pasar ekspor global, terutama di tengah meningkatnya tekanan regulasi lingkungan dari negara-negara Barat.

Dummy P18