Makasar, elaeis.co - Antrian angkutan kelapa sawit menuju PKS di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sampai saat ini masih terus mengular. Alhasil, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit cenderung rendah.
Cerita Taslim, antrian di pintu gerbang Pabrik Kelapa Sawit (PKS) rata-rata memakan waktu hingga 2 hari. Bahkan terkadang bisa lebih dari itu.
"Sentra kelapa sawit di Sulsel ini ada di dua kabupaten. Yakni kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Sementara jumlah PKS yang ada tidak sebanding dengan luas kebun saat ini," ujar petani kelapa sawit itu kepada elaeis.co, Selasa (5/5).
Rinci Taslim, di daerahnya yakni di Luwu Utara hanya ada 6 PKS yang beroperasi, termasuk milik PTPN. Namun daya tampung PKS ini belum sebanding dengan hasil kebun petani. Sehingga setiap hari terjadi antrian panjang.
"Harus ada penambahan PKS dengan kapasitas yang besar. Minimal penambahan sebanyak dua unit PKS lagi. Dengan begitu baru dapat mengimbangi hasil kebun petani," paparnya.
Kondisi saat ini lanjut Taslim, belum termasuk kebun sawit seluas 21.000 yang baru saja di remajakan pada 2021-2024. Artinya jumlah kelapa sawit akan semakin banyak dan antrian akan semakin panjang jika kebun tersebut mulai berproduksi.
"Sebetulnya banyak tengkulak yang menerima TBS tapi harga yang ditawarkan sangat rendah. Biasanya sekitar Rp2.000-Rp2.200/kg. Memang ini juga jadi pilihan petani kalau kalau tidak ada jalan lagi," katanya.
Sementara jika di Kabupaten Luwu Timur, ada sebagian petani yang menjual hasil kebunnya hingga ke Sulawesi Tengah (Sulteng). "Luasan kebun kelapa sawit di Sulsel saat ini diperkirakan hanya 70.000 hektar. Dimana 40.000 hektar ada di Luwu Utara," tandasnya.
Antrian Angkutan Selalu Panjang, Sulsel Butuh Tambahan PKS
Diskusi pembaca untuk berita ini