Dummy P17

Rohul elaeis.co — Jerit kesakitan menggema di Afdeling 21 Kebun Batang Kumu II, eks wilayah kelola PT Torganda, Kecamatan Tambusai Utara, Rokan Hulu (Rohul), Riau. 

Siang itu, Jumat 14 Agustus 2026 sekitar Pukul 14.00 WIB bukan hanya waktu istirahat, melainkan mimpi buruk yang menimpa 26 orang pekerja yang sekadar mencari nafkah. 

Tanpa peringatan maupun basa-basi, ratusan orang tak dikenal menyerbu lokasi kerja, membawa senjata tajam, panah, hingga senapan angin. Mereka tidak datang untuk berbicara, melainkan untuk menghajar, melukai, dan menjarah.

Dummy P20

Darah mengalir membasahi tanah perkebunan. Tubuh-tubuh pekerja yang tadinya sibuk bekerja kini tergeletak lemah kesakitan. 

Sejumlah luka dalam dan goresan senjata menghiasi kulit mereka. Satu di antaranya kini berjuang mempertahankan nyawa di RSUD Rokan Hulu, dirujuk setelah kondisi kritis dari Klinik Yadika Tambusai Utara, sementara yang lain masih merasakan nyeri tajam akibat pukulan kayu balok dan tusukan senjata.

“Saya terkena panah. Kami sedang bekerja, tiba-tiba dikumpulkan secara paksa. Tanpa bicara apa-apa, kami dipukuli, ditusuk. Rasanya seperti kami bukan manusia, melainkan sasaran empuk amarah mereka,” ujar Deni Anggara, salah satu korban yang masih terlihat gemetar saat menceritakan kejadian mengerikan itu.

Dummy P21

Setelah dipukuli hingga tak berdaya, para pekerja itu dipaksa masuk ke dalam truk Colt Diesel berwarna kuning bernomor polisi BK 9004 LK.

Di tengah ketakutan yang melumpuhkan akal sehat, Deni menyaksikan sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding, aksi kejam ini bukan sekadar keributan biasa. Ada dugaan kuat adanya pihak yang membiayai dan mengatur gerakan massa tersebut.

“Mereka bukan datang sendiri. Ada dugaan ini adalah preman bayaran. Sebagian dari mereka saya duga berasal dari Flores. Dan yang paling menyakitkan, di antara kerumunan itu, saya melihat ada pihak yang mengatasnamakan Agrinas ikut berada di tengah rombongan yang melakukan penyerangan,” tegas Deni dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.

Dummy P18