Alhamdulillah kata Alwie, sampai hari ini tak ada petani yang ribut. "Soalnya semuanya transparan. Kalau misalnya di luar sana ada yang ribut-ribut soal PSR ini, pasti bukan petani penerima PSR," Alwie memastikan.
Bagi Alwie, tanaman hasil program PSR ini benar-benar beda dengan tanaman dia sebelumnya. Kalau dulu, empat tahun sawitnya ditanam, belum juga berbuah.
"Sekarang, dua tahun saja sudah berbuah. Kami sangat berterimakasih kepada BPDPKS atas program ini. Mudah-mudahan ini terus berlanjut biar petani yang belum kebagian, dapat kebagian," katanya.
Apa yang dibilang para petani tadi membuat mata Ketua Koperasi Produsen Mandiri Jaya Beusaree, Zamzami, berkaca-kaca. Terbayang oleh lelaki 52 tahun ini segimana tunggang langgang nya dia mengurusi segala kelengkapan persyaratan para petani tadi supaya bisa ikut PSR.
"Sangat melelahkanlah sebenarnya. Teramat banyak berkas yang musti disiapkan dan diserahkan. Saya enggak ingat lagi berapa kali saya bolak-balik ke Jakarta terkait PSR ini. Alhamdulillah, sekarang rasa lelah itu terbayarkan. Saya senang semua petani yang tergabung di koperasi sumringah," katanya.
Ayah tiga anak ini tak sendirian di kantor koperasi yang terletak di kawasan Johan Pahlawan Meulaboh itu. Dia ditemani sejumlah anak buahnya; Samsul Ghani, Remi Agustina, Novizal dan Donal Oktaria Sarteri.
Remi kemudian menyodorkan data, bahwa sampai saat ini sudah 10 tahap pelaksanaan PSR di Aceh Barat. Tahapan itu tersebar di 11 kecamatan.
Dari sekitar 2.740 hektar lahan PSR, 1.883 hektar sudah tertanam. "Dari luasan lahan PSR tadi, lahan yang sudah dibersihkan sebenarnya sudah sekitar 2.214 hektar. Tapi yang 331 hektar belum ditanam. Lalu 495 hektar belum dikerjakan. Semua ini terjadi lantaran dana yang sudah ada di rekening, dari tahun lalu diblokir," kata Remi.
Cerita Rimbunnya Sawit PSR Bekas Kombatan di Aceh Barat
Diskusi pembaca untuk berita ini