Selain kerugian yang dialami secara finansial, serangan penyakit akar ini juga berdampak pada produktivitas perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut.
Sebab, tanaman yang tumbang mengurangi jumlah hasil panen, mengganggu rantai pasokan, dan berpotensi menyebabkan penurunan pendapatan petani.
"Dengan banyaknya pohon kelapa sawit yang mati atau tumbang akibat serangan penyakit akar ini, kami mengalami penurunan drastis dalam produksi kelapa sawit. Hal ini tentunya sangat merugikan kami para petani, karena kita mengandalkan hasil panen sebagai sumber penghasilan utama," ujarnya.
Sementara Bupati Bengkulu Selatan, Gusnan Mulyadi mengatakan pemerintah daerah tengah berupaya mencari solusi guna mengatasi wabah penyakit akar pada tanaman kelapa sawit tersebut.
"Kami telah melakukan penelitian intensif mengenai serangan penyakit akar yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp pada tanaman kelapa sawit. Saat ini, kami sedang mencari cara-cara efektif untuk mengendalikan penyebaran cendawan ini serta mengobati tanaman yang terinfeksi," ujar Gusnan Mulyadi.
Sebab, kata Gusnan, upaya pencegahan dan penanganan yang berkelanjutan sangatlah penting untuk mengurangi dampak dari serangan penyakit ini, dan melindungi masa depan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan.
"Kami akan memberikan dukungan lebih dalam penanganan wabah ini. Bantuan teknis dan akses ke informasi terbaru mengenai pengendalian penyakit akar ini akan diberikan untuk mengatasi masalah di perkebunan sawit," tegas Gusnan.
Ganasnya Blast Disease Dikeluhkan Petani Bengkulu Selatan, Batang Sawit Rontok Begitu Saja
Diskusi pembaca untuk berita ini