Pasangkayu, elaeis.co - Industri kelapa sawit Indonesia mulai memainkan strategi baru untuk menghadapi derasnya arus isu negatif dan tantangan persepsi publik.
Tak lagi hanya mengandalkan kampanye di level elite atau industri, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kini langsung turun ke akar rumput dengan menyasar pelajar sebagai target utama.
Generasi Z pun menjadi 'medan tempur' baru dalam membangun citra sawit yang lebih utuh dan berimbang.
Melalui program Sobat Sawit (Soswit) Goes To School, GAPKI menggelar edukasi langsung di SMK Negeri 1 Pasangkayu, Sulawesi Barat, Senin (4/5).
Program ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk mengenalkan sawit tidak hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai sektor vital yang menopang ekonomi daerah dan membuka peluang masa depan.
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara GAPKI, perusahaan anggota seperti PT Pasangkayu, serta dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP).
Pendekatan yang digunakan pun dibuat lebih interaktif dan kontekstual agar mudah dipahami oleh pelajar, mulai dari proses budidaya hingga isu keberlanjutan yang kerap menjadi sorotan global.
Bupati Pasangkayu, Yaumil Ambo Djiwa, menegaskan bahwa sektor sawit memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan daerah, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.
Ia berharap para pelajar tidak hanya mengenal sawit dari isu-isu negatif yang beredar, tetapi memahami secara utuh peran strategisnya.
“Saya berharap siswa mendapatkan pemahaman lengkap, mulai dari manfaat ekonomi hingga bagaimana sawit dikelola secara berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Dari perspektif akademik, kontribusi sawit juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Failur Rahman, akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, menyebutkan bahwa sekitar 90% ekspor Sulawesi Barat berasal dari sektor kelapa sawit. Angka ini menunjukkan betapa dominannya peran sawit dalam menopang perekonomian daerah.
Namun, di tengah dominasi tersebut, tantangan terbesar justru datang dari persepsi publik, terutama di kalangan generasi muda yang sangat terpapar informasi digital.
Failur mengingatkan pentingnya kemampuan literasi dan validasi informasi agar pelajar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu akurat.
“Generasi muda harus kritis. Jangan langsung percaya, tapi cek dan bandingkan informasi yang ada,” tegasnya.
Ketua GAPKI Cabang Sulawesi, Dony Yoga Perdana, melihat program ini sebagai investasi jangka panjang.
Menurutnya, edukasi sejak dini akan membuka wawasan pelajar tentang luasnya peluang di sektor sawit, mulai dari agribisnis hingga teknologi dan keberlanjutan.
Selain itu, program ini juga sejalan dengan berbagai inisiatif BPDP seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan SDM melalui pendidikan dan beasiswa, serta riset untuk meningkatkan daya saing industri.
Semua langkah tersebut diarahkan untuk memastikan industri sawit Indonesia tetap produktif, berkelanjutan, dan kompetitif di pasar global.
Di tengah tekanan global terkait isu lingkungan dan kampanye negatif terhadap sawit, langkah GAPKI menyasar pelajar dinilai sebagai manuver strategis.
Dengan membentuk pemahaman sejak dini, industri berharap dapat menciptakan generasi baru yang tidak hanya memahami sawit secara objektif, tetapi juga siap menjadi bagian dari transformasi industri ke arah yang lebih berkelanjutan.
Jika strategi ini konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin Generasi Z justru menjadi garda depan dalam mengubah stigma sawit, dari yang kerap diperdebatkan menjadi sektor yang dihargai karena kontribusinya bagi ekonomi dan pembangunan nasional.
GAPKI ‘Serbu’ SMK! Edukasi Sawit Jadi Senjata Ubah Mindset Gen Z
Diskusi pembaca untuk berita ini