Bengkulu, elaeis.co - Masyarakat Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, sepakat menolak pengembangan kelapa sawit di kawasan itu. Mereka memilih tanaman yang dirasa lebih cocok dengan lingkungan di pulau tersebut.
"Tanaman kelapa sawit tidak dapat tempat di pulau kami. Kami menolak keras bagi siapa saja yang menanam sawit di tanah kami. Sebab sawit merusak tanah dan membuat tanah jadi tidak subur," kata seorang warga di Pulau Enggano, Zakaria Kauno, Rabu (9/8).
Baca Juga: Tak Dapat Pupuk Subsidi, Petani Sawit di Bengkulu Ancam Ganti Tanaman Lain
Zakaria menegaskan bahwa bukan hanya dia yang menyuarakan penolakan tersebut. "Itu keputusan warga 6 desa di Pulau Enggano. Kami ingin menjaga keaslian alam dan ekosistem pulau yang unik. Kami paham betapa pentingnya menjaga lingkungan demi masa depan dan generasi mendatang," tambahnya.
Menurutnya, masyarakat Enggano juga telah sepakat, jika ada warga yang melanggar larangan ini dan terbukti menanam kelapa sawit, maka tindakan tegas akan diterapkan. "Pohon-pohon sawit tersebut akan ditebang paksa," ungkapnya.
Lantas, tanaman apa yang boleh diusahakan di pulau itu?
Bambang Subagio, warga Pulau Enggano lainnya, menyebutkan, masyarakat setempat memilih tanaman pisang kepok sebagai sumber pendapatan utama. "Pisang tidak memerlukan perawatan yang rumit, mudah tumbuh tanpa harus menggunakan banyak pupuk, dan untungnya jelas," tukasnya.
Menurutnya, jika punya lahan satu hektar, maka pisang kepok bisa dipanen seminggu sekali setelah masuk masa berbuah. "Dalam satu hektar bisa ditanam sebanyak 200 rumpun dan setiap rumpun memiliki 5 pohon pisang kepok. Kalau sudah panen minggu ini, minggu depan sudah panen lagi di rumpun yang sama, jadi tidak ada putus-putusnya," paparnya.
Harga jual pisang kepok di daerah itu lumayan tinggi. Satu tandan berisi 9 sisir pisang kepok dihargai Rp 80 ribu. "Setiap kali panen petani pisang bisa mengantongi penghasilan hingga Rp 4 jutaan dari satu hektar," katanya.
"Jelas lebih untung pisang dari sawit. Perawatan tidak ada, hasilnya melimpah dan maksimal," tambahnya.
Dalam pernyataannya kepada elaeis.co, ahli lingkungan Bengkulu, Dr Anisa Wijaya, mendukung pilihan warga Enggano mengembangkan tanaman pisang kepok sebagai sumber penghasilan.
"Kami percaya tanaman pisang di Pulau Enggano lebih baik dibandingkan kelapa sawit, sebab pisang tidak merusak tanah," tutupnya.
Warga Pulau Enggano Tolak Sawit, Pilih Pisang Kepok
Diskusi pembaca untuk berita ini