Dummy P17

Anak-anak muda dari UI, UGM, UNS dan kampus Jawa lain, termasuk anak muda dari Jambi (arkeolog), jadi gembala pusaka di ata segala pusaka. 

Mereka bergerak dan menyusun narasi dalam kemasan kekinian. Serempak nada era serba digital dengan sejumlah aplikasi yang memahkotainya.

Di belakang anak muda ini, nama-nama besar dalam wilayah “pusaka” (heritage), seakan memang memberi ruang yang luas dan ranggi untuk kreativitas progresif. 

Dummy P20

Nama-nama itu; Catrini Pratihari Kubontubuh (Ketua BPPI), Laretna T. Adishakti (arsitek), Marsis Sutopo (arkeolog). Dan jangan lupa peran besar dan strategis dari sosok figur Hashim Djojohadikusumo yang mukim selama dua malam di kota Siak Sri Indrapura.

Baca juga: Kidal, Bukan Kiri?

Figur muda Riau juga ikut derap rempak, khusus untuk alur dan garis situs, pun ruang-ruang saujana pusaka dan bentang alam (kosmografi sungai) sekitar kota Diraja Siak Sri Indrapura yang teduh, rimbun dan hijau itu.

Dummy P21

Agenda selama di Siak, lebih sarat muatan transfer pengetahuan, berbagi pengalaman dan ‘injab kesadaran’ platonik, (juga know-how) yang ditumpu khusus pada isu (tak saja penyelamatan), tapi segala ihwal yang dikait-rantaikan dengan situs dan ruang (tambang budaya) pusaka, harus mampu mendesak “rancangan baru dan berkaidah” mengenai ekonomi kreatif yang berpembawaan berkelanjutan bagi masyarakat tempatan (lokal).

Keluar dari benang kusut ekonomi ekstraktif yang ‘memecat’ secara sistematis dan eksploitatif segala sumberdaya alam. 

Pun, didukung sejumlah argumentasi pembenaran secara eskalatif; demi kesempatan kerja lokal, devisa negara, katalisator ekonomi nasional, dinamika ekspor dan seterusnya. 

Temu Pusaka Indonesia 2022 di Siak, paling tidak memberi sentakan akan “kesadaran dan keinsyafan”, bahwa segala perkakas peninggalan oleh sepenggal zaman yang bercahaya, bisa diolah dengan cerdas dan cerdik untuk menghenti gerak-massif ekonomi ekstraktif.

Banyak alasan yang boleh ditumpang pada upaya ‘pemerkasaan’ (empowering) ekonomi kreatif berbasis pusaka; isu climate change, massifikasi ekonomi warga kecil, merujuk pada produk unikum setiap wilayah, mendesak kepada pemerintah daerah untuk merawat dan bila perlu menjelitakan tinggalan-tinggalan pusaka (tak hanya dalam maujud Perda), tapi sekaligus merawat dan mengembangkannya sebagai destinasi wisata yang bergemuruh dalam semangat kolaboratif dan kohabitasi (pelaku utamanya adalah masyarakat lokal).

Dummy P18